Mengenal Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation System)
Drip irrigation adalah satu skema irigasi yang sedang terkenal pada saat ini. Skema ini lebih mendesak di tingkat keefektifan dan keefisienan air irigasi yang diterapkan di tempat budidaya. Skema irigasi tetes kerap digabungkan dengan tindakan pemupukan di tanaman, langkah ini disebutkan fertigasi.
Cara Memelihara Anak Ayam Laga Yang Benar
Dengan dilakukan implikasi fertigasi di tempat budidaya membuat pekerjaan yang dilaksanakan dalam beradabdaya tanaman lebih gampang serta efisien. Tambahan nutrisi di aliran irigasi ini biasanya memakai nutrisi AB mix. Hal yang penting dilaksanakan saat lakukan pemupukan lewat fertigasi yakni nilai EC (Electrical Conductivity) dalam satu larutan nutrisi itu. Kandungan EC di larutan nutrisi penting jadi perhatian, sebab nilai ini bisa memperlihatkan fokus nutrisi yang terlarut pada suatu larutan itu. Jika fokus nutrisi yang terlarut dalam jumlah banyak, karena itu nilai EC larutan itu akan makin tinggi serta begitupun kebalikannya (Ekaputra dkk, 2018).
Menurut Widiastuti serta Wijayanto (2017), skema irigasi tetes pas diterapkan di tempat dengan sumber air terbatas, skema irigasi tetes dapat mengirit penggunaan air sebab bisa meminimalisir kehilangan air yang kemungkinan bisa berlangsung karena perkolasi, penguapan serta saluran permukaan.
Pengaplikasian irigasi tetes ini bisa dilaksanakan lewat 2 langkah, yakni dengan manfaatkan style gravitasi serta memakai pompa air. Tentu saja ada banyak kekurangan serta kelebihan semasing antara kedua-duanya.Di skema irigasi tetes ada banyak bagian utama. Elemen itu mencakup pompa air, penampung air, tabung/kolam fertigasi, Aliran primer, Aliran sekunder (manifold), PCJ, serta emitter. Langkah kerja skema irigasi tetes ini dari awalnya pompa air akan mengisap air yang dari sumber air, air itu selanjutnya dimuat dalam tempat penampungan air yang umumnya memakai tandon. Air seterusnya disalurkan ke kolam fertigasi. Di tingkatan ini, air ditambah nutrisi yang seterusnya disalurkan ke arah aliran primer, dalam step ini air itu bisa disalurkan memakai pompa air atau cuman memercayakan style gravitasi saja.
Air selanjutnya disalurkan ke arah manifold (aliran sekunder), sebelumnya air disalurkan ke arah emitter, air lebih dulu melalui PCJ. PCJ ini jadi penghubung di antara aliran sekunder serta emitter, PCJ berperan dalam menyeragamkan saluran air yang nanti akan diteteskan di dalam tempat tanam. Ada PCJ ini memberi tingkat keseragaman yang tinggi pada suatu skema irigasi tetes yang diterapkan.
Unsur penghalang kesuksesan pengaplikasian irigasi tetes yakni tentang ada penyumbatan yang biasanya berlangsung di PCJ atau di emitter. Salah satunya pemicu penyumbatan di aliran itu biasanya disebabkan oleh kotoran dari sumber air yang terikut yang selanjutnya akan menimbun di aliran serta pada akhirnya bisa menutup aliran irigasi itu. Jalan keluar untuk menahan peluang ini yaitu dapat dengan memonitor aliran irigasi dengan periodik, hingga jika ada satu permasalahan dalam aliran itu bisa selekasnya terselesaikan sekalian dilaksanakan pembaruan.
Sumber:
Widiastuti, I serta D. S. Wijayanto. 2018. Penerapan Tehnologi Irigasi Tetes di Budidaya Tanaman Buah Naga. JTEP. 6(1) : 1-8.
Ekaputra, E. G., D. Yanti., D. Saputra, serta F. Irsyad. 2018. Rancang Bangun Skema Irigasi Tetes Untuk Budidaya Cabai(Capsicum Annum L.) Dalam Greenhouse di Nagari Biaro,Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Jurnal Irigasi. 11(2): 103-112.
