Pertanian, Miskonsepsi, dan Potensi Masa Depan


 


Teriknya matahari membuatku menyampingkan motor ke satu warung di pinggir jalan. Minum satu gelas es teh tentu fresh, batinku. Kucabut kunci dari motor matic yang sudah setia temaniku sekian tahun.

Promo Menarik Dalam Permainan Slot

Nampak bapak-bapak sedang asyik bercengkerama, ada yang sedang menarik rokok, serta ada pula yang sedang menyeruput kopi hitam. Kemungkinan mereka sedang istirahat serta melepas capek dari kegiatan rutin sehari-hari. Berbau asap rokok serta keringat bercampur jadi satu saat kulangkahkan kakiku masuk ke warung.


"Kuliahnya jurusan apa mbak?" bertanya seorang bapak yang duduk di depanku.


Tercipta untuk orang Jawa membuatku terlatih dengan budaya semacam itu, yakni sama-sama bertegur sapa serta berbasa-basi walau baru pertama-tama berjumpa. Kemungkinan jika saya tercipta untuk orang Barat akan berasa tersinggung saat diberi pertanyaan hal privacy semacam itu.


"Pertanian pak," jawabku


"Oh, diajarin nyangkul ya?"


"Mengapa ingin mengambil jurusan pertanian mbak? Tidak takut kepanasan? Kelak kulitnya hitam loh." Sahut bapak disampingnya yang ternyata tertarik dengan percakapan kami.


Saya telah terlatih dengan pernyataan semacam itu. Masih jarang-jarang anak muda yang ingin ambil kuliah jurusan pertanian. Palingan masuk jurusan pertanian sebab beberapa unsur yang lain seperti tidak ada alternatif lain, diminta orang tuanya, keterimanya di jurusan itu, atau "tidak papalah yang perlu kuliah". Tetapi, ada pula yang kemauan ingin memajukan pertanian di Indonesia. Saya termasuk juga yang mana? Entahlah.


Saat awal waktu kuliah, saya cukup tersinggung dengarkan pernyataan jenis itu. Ditambah lagi kudengar langsung bukan hanya dari beberapa orang yang baru ku mengenal, tetapi dari saudara-saudaraku."Aduh, kok kuliahnya mengambil jurusan pertanian. Keponakanku mengambil jurusan itu sesudah lulus hanya jualan sayur.""Oalah nduk, nduk. Sekolah tinggi-tinggi kok yo pertanian. Sini tidak ajarin tandur, saya telah pengalaman beberapa puluh tahun.""Sesudah lulus kuliah ngapain? Ingin kerja di sawah? Kok ya tidak mengambil jurusan perkantoran saja."


"Aduh, kok kuliahnya mengambil jurusan pertanian. Keponakanku mengambil jurusan itu sesudah lulus hanya jualan sayur.""Oalah nduk, nduk. Sekolah tinggi-tinggi kok yo pertanian. Sini tidak ajarin tandur, saya telah pengalaman beberapa puluh tahun.""Sesudah lulus kuliah ngapain? Ingin kerja di sawah? Kok ya tidak mengambil jurusan perkantoran saja."Serta ada banyak pernyataan yang lain yang pernah membuat mentalku makin ciut. Campur baur perasaanku waktu itu. Telah masuknya sulit, harus ikuti beberapa step seleksi. Eh gantian diterima bisa respon semacam itu. Sering saya bertanya-tanya pada diri kita, apa saya salah mengambil jurusan pertanian?


Seiring waktu berjalan, saya mengetahui jika pertanian adalah salah satunya bagian yang cukup penting. Kuliah pertanian bukan hanya diajari nyangkul sama seperti yang beberapa orang kata.


Postingan populer dari blog ini

Although the research researches reveal

Tony Allan obituary

While police state SSOs participate in an essential function in maintaining